Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • ika.anggun431410 12:53 am on 16 September 2010 Permalink | Reply  

    Tentang Sebuah Keikhlasan 

    Nama : Ika Septiana Anggun Puspita

    NRP : B 04100091

    Laskar : 1

    Cerita ini mengenai sahabat baikku sendiri. Seorang gadis yang sungguh aku kagumi. Kisah ini berawal tentang mimpi besarnya menjadi seorang sarjana teknik nuklir sebuah universitas negeri. Kukira awalnya mimpinya itu hanyalah bualan seorang remaja tanggung yang hanya lelucon saja. Nyatanya, setelah sekian lama mimpi itu tak jua memudah, malah semakin kuat mengakar dalam dirinya.

    Dengan bermodalkan mimpinya itu, ia mengikuti sebuah ujian masuk universitas tersebut. Tak ayal lagi, karena dia juga merupakan gadis yang cerdas, diapun lolos ujian masuk tersebut. Segalanya telah dipersiapkan. Sampai pada suatu hari, sang ayah jatuh sakit. Berobat ke beberapa rumah sakitpun hasil diagnosanya hanay mengenai masalah pencernaan saja. Sampai pada akhirnya sebuah diagnosa dari rumah sakit yang kesekian kali menyatakan sang ayah mengidap kanker hati.

    Tak beberapa bulan berselang, keadaan sang ayah semakin memprihatinkan. Kondisinya menurun drastis. Beliau kini hanya bisa berbaring dalam keadaan tak berdaya. Hal ini membuat sebuah dilema dalam diri sahabatku. Akankah ia melanjutkan mimpinya sementara kondisi keluarganya dan satu-satunya tulang punggung hidup keluarganya tergolek sakit?.

    Atas nasihat dan saran dari sang ibunda, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti sebuah ujian masuk sekolah tinggi akuntansi negara atau STAN. Awalnya ia hanya berpikir untuk coba-coba saja, namun makin lama seiring bertambah buruknya kondisi sang ayah membuatnya harus berpikir dua kali. Setelah mengikuti ujian itu, benar-benar sebuah dilema besar melanda dirinya. Antara harus memperjuangkan mimpinya atau dia harus mengambil jalan aman untuk keluarganya?

    Mungkin bagi sebagian orang akan berpikir, tentu saja aku akan memilih STAN. Tapi, sahabatku itu adalah orang yang selalu mengejar mimpinya dan tidak ingin terbatas pada sebuah ikatan. Mungkin terdengar konyol bagi orang lain tapi baginya ini adalah sebuah pertarungan batin besar. Tak lama kemudian, ayahanda tercintanya berpulang ke Rahmatullah. Tak berselang lama setelah itu, hasil ujian STANpun keluar. Dia lulus.

    Kematian sang ayah membuatnya membulatkan tekad untuk tak membebani keluarganya lebih jauh lagi. Kedewasaannya menuntunnya pada sebuah pilihan yang harus dibayarnya dengan sebuah mimpi besarnya. Sungguh bayaran yang amat mahal. Dia harus merelakan mimpinya itu pergi demi keluarganya. Ia harus mengubur semua cita-cita yang pernah ia andaikan.Sebuah keikhlasan yang bagiku sungguh-sungguh hebat.

    Darinya aku bisa belajar bahwa sesuatu yang kita anggap sempurna mungkin bukanlah hal yang terbaik untuk kita. Apa yang Tuhan kehendaki untuk kita ialah yang terbaik untuk kita. Kadang kita harus memilih antara kebahagiaan diri kita sendiri atau kebahagiaan orang lain. Namun kadang kebahagiaan kita adalah ketika kita bisa membahagiakan orang lain.

    Kawan, darimu aku belajar bahwa aku harus sekuat tenaga meraih mimpiku karena saat ini apa yang aku rencanakan masih seperti rencana Tuhan. Dan aku meyakini itu sebagai hal yang terbaik untukku. Kau pasti akan menemukan mimpi-mimpi lain yang jauh lebih besar dan jauh lebih indah karena kau takkan pernah putus harapan untuk menggali mimpi-mimpi yang masih terkubur dan karena kau selalu menjadi inspirasiku.

     
  • ika.anggun431410 12:49 am on 16 September 2010 Permalink | Reply  

    Satu Orang untuk Seribu Orang 

    Nama : Ika Septiana Anggun Puspita

    NRP : B 04100091

    Laskar : 1

    Ini cerita tentang diriku. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi tiap orang. Entah karena apa, kesadaran masyarakat Indonesia pada umumnya tentang membuang sampah pada tempat sampah masih sangat minim. Bahkan, di kalangan mahasiswa yang katanya adalah kaum terpelajar sendiripun masih sangat banyak yang tidak mempunyai kesadaran tentang kebersihan lingkungan. Padahal sewaktu saya di SMA, saya saja sempat heran pada guru saya yang masih mengingatkan untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Ternyata di perguruan tinggipun tak beda jauh.

    Suatu hari, saya dan teman-teman saya sedang berjalan-jalan sambil minum. Setelah beberapa saat, minuman kamipun habis. Salah satu teman saya langsung membuang bungkus minuman itu begitu saja. Sontak, sayapun memarahinya. Diapun memungut kembali sampah yang ia buang. Namun setelah itu saya minta maaf karena telah memarahinya. Ada kasus lain yang menuntut saya untuk berbuat lebih daripada sekedar mengingatkan. Saya harus rela memungut sampah yang dibuang teman saya itu karena dia tak mau memungutnya. Saya berpikir semoga tindakan saya dapat membuatnya malu dan takkan mengulangi perbuatannya.

    Tentu saja semuaya itu harus didasari oleh pribadi diri sendiri dan rasa cinta terhadap lingkungan. Pada awalnya saya merasa perbuatan saya itu sia-sia saja. Saya berpikir. Jika hanya saya saja yang melakukan hal itu, sementara yang lain tidak mengindahkannya akan percuma saja. Tapi, suatu hari saya mulai menyadari teman-teman sepermainan saya yang biasa bermain dengan saya dan tahu akan kebiasaan saya untuk membuang sampah pada tempatnya mulai membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya pula. Awalnya mereka terpaksa karena ada saya. Tetapi lama kelamaan, hal itu tertanam dalam diri mereka dan menjadi kebiasaan.

    Bahkan yang lebih membuat saya gembira adalah ada yang sudah memiliki kesadaran untuk turut mengingatkan orang – orang disekitarnya. Ada yang bilang bahwa , “ Saya pasti akan teringat kamu jika akan membuang sampah sembarangan. Jadi saya batal melakukannya. Takut disemprot.”, kata seorang teman saya sambil tertawa.

    Dari situ saya sadar bahwa sesuatu yang besar dimulai dari hal yang kecil dan sesuatu yang kecil harus dimulai dari diri sendiri untuk menjadi sesuatu yang besar. Semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi bagi semuanya. Semoga berawal dari saya, akan lahir pecinta lingkungan lain dan dari pecinta lingkungan lain akan lahir lebih banyak pecinta lingkungan. Dari satu orang menjadi seribu orang.

     
  • ika.anggun431410 12:48 am on 16 September 2010 Permalink | Reply
    Tags: Tugas mpkmb   

    Tentang Sebuah Keikhlasan 

    Cerita ini mengenai sahabat baikku sendiri. Seorang gadis yang sungguh aku kagumi. Kisah ini berawal tentang mimpi besarnya menjadi seorang sarjana teknik nuklir sebuah universitas negeri. Kukira awalnya mimpinya itu hanyalah bualan seorang remaja tanggung yang hanya lelucon saja. Nyatanya, setelah sekian lama mimpi itu tak jua memudah, malah semakin kuat mengakar dalam dirinya.

    Dengan bermodalkan mimpinya itu, ia mengikuti sebuah ujian masuk universitas tersebut. Tak ayal lagi, karena dia juga merupakan gadis yang cerdas, diapun lolos ujian masuk tersebut. Segalanya telah dipersiapkan. Sampai pada suatu hari, sang ayah jatuh sakit. Berobat ke beberapa rumah sakitpun hasil diagnosanya hanay mengenai masalah pencernaan saja. Sampai pada akhirnya sebuah diagnosa dari rumah sakit yang kesekian kali menyatakan sang ayah mengidap kanker hati.

    Tak beberapa bulan berselang, keadaan sang ayah semakin memprihatinkan. Kondisinya menurun drastis. Beliau kini hanya bisa berbaring dalam keadaan tak berdaya. Hal ini membuat sebuah dilema dalam diri sahabatku. Akankah ia melanjutkan mimpinya sementara kondisi keluarganya dan satu-satunya tulang punggung hidup keluarganya tergolek sakit?.

    Atas nasihat dan saran dari sang ibunda, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti sebuah ujian masuk sekolah tinggi akuntansi negara atau STAN. Awalnya ia hanya berpikir untuk coba-coba saja, namun makin lama seiring bertambah buruknya kondisi sang ayah membuatnya harus berpikir dua kali. Setelah mengikuti ujian itu, benar-benar sebuah dilema besar melanda dirinya. Antara harus memperjuangkan mimpinya atau dia harus mengambil jalan aman untuk keluarganya?

    Mungkin bagi sebagian orang akan berpikir, tentu saja aku akan memilih STAN. Tapi, sahabatku itu adalah orang yang selalu mengejar mimpinya dan tidak ingin terbatas pada sebuah ikatan. Mungkin terdengar konyol bagi orang lain tapi baginya ini adalah sebuah pertarungan batin besar. Tak lama kemudian, ayahanda tercintanya berpulang ke Rahmatullah. Tak berselang lama setelah itu, hasil ujian STANpun keluar. Dia lulus.

    Kematian sang ayah membuatnya membulatkan tekad untuk tak membebani keluarganya lebih jauh lagi. Kedewasaannya menuntunnya pada sebuah pilihan yang harus dibayarnya dengan sebuah mimpi besarnya. Sungguh bayaran yang amat mahal. Dia harus merelakan mimpinya itu pergi demi keluarganya. Ia harus mengubur semua cita-cita yang pernah ia andaikan.Sebuah keikhlasan yang bagiku sungguh-sungguh hebat.

    Darinya aku bisa belajar bahwa sesuatu yang kita anggap sempurna mungkin bukanlah hal yang terbaik untuk kita. Apa yang Tuhan kehendaki untuk kita ialah yang terbaik untuk kita. Kadang kita harus memilih antara kebahagiaan diri kita sendiri atau kebahagiaan orang lain. Namun kadang kebahagiaan kita adalah ketika kita bisa membahagiakan orang lain.

    Kawan, darimu aku belajar bahwa aku harus sekuat tenaga meraih mimpiku karena saat ini apa yang aku rencanakan masih seperti rencana Tuhan. Dan aku meyakini itu sebagai hal yang terbaik untukku. Kau pasti akan menemukan mimpi-mimpi lain yang jauh lebih besar dan jauh lebih indah karena kau takkan pernah putus harapan untuk menggali mimpi-mimpi yang masih terkubur dan karena kau selalu menjadi inspirasiku.

     
  • ika.anggun431410 8:12 am on 30 July 2010 Permalink | Reply  

    Taguchi Junnosuke’s omission of Akanishi Jin upsets fans 



    KAT-TUN member, Taguchi Junnosuke, upset some fans during their live concert at the Tokyo Dome on July 25th.

    At the beginning, when the members were talking about co-starring with other members in dramas, Kamenashi Kazuya asked Taguchi if he had ever co-stared with any KAT-TUN members in a drama, and Taguchi answered that he has never done it. However, Taguchi did co-star with Akanishi Jin in “Yukan-club” in 2007.

    Perhaps the KAT-TUN members made it a point to not mention Jin during the concert on purpose?

    Regardless, after the concert, some fans complained on the Internet about the comment Taguchi made, stating that it represented a mistreatment of Jin because Taguchi referred to Jin as if he was never a member of KAT-TUN.

    My Opinion: I don’t think Taguchi forgot or anything like that. I think he was told not to speak about it by Johnny. Anytime someone leaves the group in Johnny’s they don’t normally talk about it (ex. NewS). I would ask why in the world would Kame ask that in the first place, but I think that was staged as well. Anyway, fans knew this was coming so they shouldn’t get mad a Junno :(~

    Where I got it from: http://www.tokyohive.com/2010/07/taguchi-junnosukes-omission-of-akanishi-jin-upsets-fans/
    

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel